Gejala Klinis Dermatografia

12:14:00


Gejala Klinis
Pasien datang dengan lesi kulit kemerahan dan urtika (wheal-and-flare) sebagai respons terhadap manipulasi kulit. Lesi klasik adalah plak eritematosa yang meninggi dan dikelilingi oleh eritema yang dapat dilihat di area kulit yang di tekan. Pasien biasanya mengeluh rasa gatal atau seperti terbakar. Lesi dapat terjadi dari beberapa menit sampai 24 jam.


Patofisiologi
Dermatografia adalah reaksi urtikaria yang diinduksi secara fisik sebagai respons terhadap garukan pada kulit.

Dermatografia lebih sering terjadi pada orang dewasa muda dan dapat ditemukan pada 4-5% populasi. Diyakini bahwa sel mast intraepitel melepaskan isinya sebagai respons terhadap simulasi fisik. Hal ini menggambarkan reaksi alergi tipe I; pada reaksi ini histamin, asam arakidonat, dan leukotrien merupakan mediator yang berperan. Meskipun tidak ada antibodi imunoglobulin E (IgE) spesifik yang telah diidentifikasi, dermatografia secara pasif telah ditransfer melalui infus serum pasien yang terkena ke dalam tubuh orang lain. beberapa ahli percaya bahwa substansi P juga berperan pada dermatografia.

Dermatografia telah dilaporkan disebabkan oleh keadaan medis lainnya, seperti urtikaria pigmentosa, diabetes, penyakit virus, dan kehamilan lanjut, serta akibat penggunaan obat-obat tertentu seperti penisilin, kodein, dan sulfonamid.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. Lokasi fisik paling baik yang dermatografianya dapat diinduksi adalah pada punggung. Kulit menjadi merah bila ditekan dengan kuat dan kemudian timbul “respon tripel Lewis” suatu garis merah yang membentang sampai terbentuk urtika.

Komplikasi Klinis
Dermatografia adalah suatu proses penyakit yang jinak, dan komplikasinya jarang terjadi. Namun, superinfeksi area yang terkena dapat terjadi akibat garukan dan ekskoriasi yang disertai rasa gatal, dan pasien juga dapat mengalami nyeri kepala, kepala terasa ringan/ melayang (flushing), atau hipotensi.

Tata Laksana

Sinar Ultraviolet (UV) dapat mencegah kejadian, tetapi antihistamin oral adalah pengobatan pilihan. Doksepin, antidepresan trisiklik, atau hidroksizin juga dapat digunakan ; semuanya memiliki sifat memblokade reseptor H1 dan H2. Kortikosteroid tidak menghambat degranulasi sel mast kulit sehingga tidak mempunyai peran pada pengobatan dermatografisme atau urtikaria fisisk lainnya. Follow-up bersifat esensial karena dermatografia berhubungan dengan gangguan lain seperti penyakit bahcet dan fibrositis reumatik kronik.

Share this :

Previous
Next Post »
0 Komentar

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔