Penanganan Penyakit Hidradenitis Supurativa dan Mengobati Secara Medis

01:04:00 Add Comment
Gejala Klinis
Banyak pasien datang dengan mengetahui bahwa mereka membawa diagnosis hidradenitis supurtiva (HS), dan mengetahui bahwa gejala HS akan timbul. Pasien tersebut datang dengan nyeri, pembekakan, gatal, perdarahan, dan drainase prupelen dari banyak saluran sinus di area aksila atau anogenital. Pasien lainnya datang pertama kali pada onset pubertas dengan nodul subkutan yang nyeri tekan dan abses dalam yang secara khas berbentuk bulat. Abses akibat HS pada awalnya cenderung bermanifestasi sebagai lesi simetrik di regio aksila atau anogenital.

Patofisiologi
Perempuan lebih sering terkena dari pada laki-laki (3:1). Puncak insidensi penyakit ini adalah pada dekade kedua dan ketiga kehidupan dan menurun pada dekade kelima. Penyebab pasti HS tidak diketahui;namun, predisposisi genetik dan berbagai faktor endoktrin tampaknya berperan penting. Obesitas adalah faktor penyebab eksaserbasi. Tampaknya terdapat asosiasi antara timbulnya HS dan merokok. Organisme stafilokokus dan staphylococcus aureus koagulase-negatif seringkali diisolasi dari pasien yang mengalami HS.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan temuan klinis abses aksila dan anogenital rekuren multipel, saluran sinus dengan drainase purulen, dan fistula.

Komplikasi Klinis
Komplikasi HS meliputi fibrosis dan terbentuknya parut dengan pembentukan kontraktur dan penurunan mobilitas ekstremitas. Fistula dapat terjadi di area anorektal dan utera. Komplikasi lainnya meliputi rekurensi yang sering, anemia, karsinoma sel skuamosa, artropati, amilodosis, gagal ginjal, dan kematian.

Tata Laksana

Tata laksana medis meliputi dorongan untuk menurunkan berat badan, berhenti merokok, serta perawatan lokal abses dan fistula dengan sangat teliti. Klindamisin topikal dan enteral bermanfaat pada banyak kasus. Terapi antiandrogen dan finasterid dapat membantu. Retinoid dan kortikosteroid dosis imunosupresan juga dapat berguna . laporan terkini radioterapi pada HS bersifat mengesankan, terapi belum dikonfirmasi. Penanganan dengan pembedahan mungkin merupakan pilihan terbaik untuk kasus yang berat; penanganan dimulai dari drainase sederhana sampai prosedur eksisi radikal.

Cara Penanganan Abses Kulit

11:25:00 1 Comment







Penyakit Skabies yang Di Sebabkan Oleh Tungau

00:58:00 Add Comment

Gejala Klinis
Pasien yang mengalami skabies mengelukan ruam yang sangat gatal. Pruritus dapat lebih berat pada malam hari dan dapat mengenai bagian tubuh manapun, tetapi area yang paling sering terkena adalah ruang selaput interdigital, aksila, area genital, bokong dan payudara.

Patofisiologi
Sarcoptes scabiet var.harmonis adalah suatu tungau, dengan panjang kira-kira 0,5 mm, yang menyebabkan skabies pada manusia. Tungau betina menggali di bawah kulit dan menghasilkan telur dan skibala. Reaksi hipersensitivitas lambat tipe IV terjadi setelah sekitar 1 bulan pada pasien yang tidak tersensitisasi atau dalam beberapa jam pada pasien yang tersensitisasi. Hal ini menyebabkan pruritus berat yang khas untuk infeksi skabies.

Diagnosis
Jika dicurigai terjadi skabies, maka diagnosis dapat dikonfirmasi dengan membuka lubang galian atau lesi kulit lainnya dengan pisau skalpel nomor 15. Isinya ditempatkan di atas suatu slide (kaca objek), dan berikan stetes minyak. Diagnosis dikonfirmasi dengan identifikasi tungau, telur, atau skibala (fases) pada pemeriksaan mikroskopik.

Komplikasi Klinis
Komplikasi biasanya terbatas pada infeksi skunder, dan biasanya hanya bermasalah pada pasien dengan gangguan imun. Bentuk generalisata skabies (skabies Norwegia atau Berkusta) disertai oleh infeksi sekunder yang berat pada pasien dengan gangguan imun. Bentuk skabies ini menyebabkan hiperkeratosis dan ruam eritematosa pada wajah, batang tubuh, dan ekstremitas. Skabies berkusta sangat menular dan merupakan resiko khusus untuk pekerja perawatan kesehatan. Pruritus dapat berlangsung selama beberapa bulan setelah pengobatan infeksi berhasil.

Tata Laksana
Pengobatan skabies meliputi pemakaian topikal lindane, permetrin, atau suatu agen sulfur. Lesio lindane 1% tidak dianjurkan untuk anak berusia kurang dar 2 tahun, karena berpotensi menyebabkan neurotoksisitas dan resiko anemia aplastik. Pasien yang alergi terhadap chysanthemum, serta perempuan hamil menyusui, sebaiknya tidak diberi lindane. Permetrin 5% dapat digunakan untuk bayi berusia 2 bulan dan sebaiknya dipakai selama 8-14 jam. Obat ini dianggap merupakan pengobatan pilihan, dengan tingkat kesembuhan lebih dari 90%. Salep sulfur 6% dipakai selama tiga malam berturut-turut, merupakan pengobatan alternatif. Pasien perlu dianjurkan untuk mencuci dan mengeringkan semua pakaian dan sprei untuk mencegah reinfeksi. Salep sulfur masih belum disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat untuk mengobati skabies. Orang yang serumah dan orang yang kontak secara seksual dengan penderita skabies sebaiknya diobati untuk mencegah reinfeksi. 

Cara Penangan Penyakit Pitiriasis Rosea

00:49:00 Add Comment

Gejala Klinis
Pasien yang mengalami pitiriasis rosea (PR) biasanya berusia dua puluh atau tiga puluh tahunan dan mengeluhkan ruam yang difus dan gatal, disertai prodromal viral yang meliputi demam, nyeri kepala, kelelahan, malaise, dan artalgia.

Patofisiologi
Berbagai faktor yang menunjang bahwa penyakit ini berasal dari virus yaitu predileksi selama musim gugur dan musim semi, peningkatan insidensi pada orang dengan gangguan imun, imunitas seumur hidup setelah ruam, dan kasus cluster. Human herpes virus-6 (HHV-6) atau HHV-7 dapat menjadi faktor pencetus, meskipun asosiasi definitifnya masih kontroversial. Ruam seperti PR dapat terjadi akibat penggunaan obat seperti kaptopril, metronidazol, klonidin, dan barbiturat.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis; 50% pasien mengalami atau ingat pernah mengalami “herald patch”, yang merupakan area eritematosa tunggal, berdiameter 2-10 cm, dengan tepi meninggi dan edematosa. Lesi biasanya terdapat pada batang tubuh, namun dapat muncul di area lainnya. Sekitar 7-10 hari setelah timbul herald patch, tampak erupsi difus dari bercak papuloskuamosa yang berukuran lebih kecil, berwarna merah muda, dan berbentuk oval, disepanjang garis regangan kulit. Distribusi yang demikian menyebabkan lesi disebut berpola “pohon natal” di punggung. Lesi tersebut memiliki sisik halus yang dapat muncul di bagian sekeliling pnggir. Lesi-lesi dapat menyatu dan kambuh.

Komplikasi Klinis
Pr dapat berlangsung berbulan-bulan, dengan perjalanan penyakit yang hilang timbul. Perjalanan penyakit yang hilang timbul. Perjalanan penyakit biasanya jinak dan sembuh sempurna, meskipun pasien harus diinformasikan bahwa perubahan pigmentasi pascainflamasi dapat menetap. Jika lesi menetap untutk waktu lama atau disertai gejala lainnya, maka pasien harus dirujuk untuk mendapatkan evalausi dermatologik untuk psoarisis gutata dan keadaan lainnya yang menyerupai PR.

Tata Laksana

Edukasi dan menenangkan pasien merupakan aspek pengobatan yang paling penting untuk entitas jinak yang swasirna ini. Sinar ultraviolet (UV) dalam riwayat singkat berdasrkan pengalamantelah dilaporkan dapat mempersingkat durasi, tetapi tidak ada manfaat jangka panjang yang tercatat, dari beberapa kasus dapat memperburuk perubahan perubahan pigmentasi. Untuk pasien yang mengalami pruritus, antihistamin oral standar dapat menghilangkan gejala. Steroid topikal juga dapat memberikan kesembuhan simtomatik. Meskipun bukti terkini dari asosiasi dan penelitian HHV memperlihatkan bahwa eritromisin dapat mempercepat resolusi, namun saat ini terapi antimikroba tidak diindikasikan.

Penanganan Pada Penyakit Pemfigus Vulgaris Secara Klinis

00:31:00 Add Comment

Gejala Klinis
Pasien yang mengalami pemfigus vulgaris (PV) dapat datang dengan lepuh atau erosi pada kulit, lesi dalam mulut, komplikasi sekunder dari penyakit ini, atau gejala yang tidak terkontrol.

Patofisiologi
PV adalah suatu penyakit autoimun yang jarang terjadi yang meliputi terbentuknya lepuh mukokutaneus. Antibodi imunoglobulin G (IgG) ditargetkan melawan desmoglein-3, suatu protein adhesi yang ditemukan pada desmosom, dengan mengganggu struktur adhesi utama ini pada epidermis. Hasilnya adalah akantolisis (separasi antara keratinosit), terbentuknya lepuh suprabasilar, dan infiltrat inflamatoris dermal superfisial ringan. Mekanisme yang pasti masih kontroversial.

PV adalah bentuk pemfigus yang paling umum. Jenis utama lainnya meliputi pemfigus foliaseus dan pemfigus paraneoplastik. Frekuensi meningkat pada orang keturunan Mediterania atau Yahudi. Usia rerata saat onset adalah 50-60 tahun. Jumlah yang terkena PV sebanding antara laki-laki dan perempuan.

Diagnosis
Lepuh (bula) merupakan lesi primer pada PV. Lesi kulit sering dimulai di kepala dan batang tubuh. Bula biasanya jernih dan tegang saat onset dan menjadi keruh dan flaksid dalam 2-3 hari. Terjadinya ruptur menyebabkan erosi yang nyeri dan gundul, serta ulserasi berkusta yang dapat terasa gatal. Penekanan dengan jari ke kulit pada tepi lesi yang aktif menyebabkan ekstensi lepuh atau terbentunya lepuh baru; reaksi ini dikenal sebagai tanda Nikolsky dan bersifat khas untuk PV. Lesi oral merupakan tanda pertama penyakit ini pada lebih dari separuh pasien. Lesi ini khas berupa erosi berupa erosi yang terasa nyeri atau ulserasi kronik, seringkali terdapat pada bibir, gusi, dan mukosa bukal, dengan kemungkinan ekstensi kefaring  dan laring. Bula intak dalam mulut jarang terjadi. Bahaya yang berpotensi terjadi adalah kesalahan diagnosis sebagai infeksi virus herpes simpleks (HSV, herpes simplex virus). PV dikonfirmasi berdasarkan vesikel intraepidermal dan akantolisis pada pemeriksaan histologik dan dengan pemeriksaan imunofluoresensi direk atau indirek.

Komplikasi Klinis
PV yang tidak diobati bersifat fatal pada sebagian besar pasien akibat penyebaran penyakit, sepsis, malnutrisi, dehidrasi, debilisasi, dan tromboembolisme.

Tata Laksana

Pengobatannya meliputi pengendalian nyeri, perawatan luka, pemberian cairan intravena, dan pemberian antibiotik yang sesuai. Pilar utama terapi jangka panjang adalah kortikosteroid sistemik, yang telah menurunkan tingkat kematian dari 95% menjadi kurang dari 10%. Penyakit yang ringan dapat dibati dengan uji coba kortikosteroid topikal atau prednison dosis rendah. Konsultasi dermatologi esensial untuk dilakukan.

Cara Penanganan dan Menghilangkan Kutu Kepala Secara Medis

00:20:00 Add Comment

Gejala Klinis
Pasien dengan kutu kepala dengan rasa gatal di kulit kepala,meskipun beberapa pasien tidak mengalami gejala (asimtomatik). Infeksi kutu kepala biasanya diketahui oleh orang lain, yang melihat telur kutu atau kutu. Telur kutu berukuran sangat kecil, berbentuk oval dan berwarna putih dengan panjang kurang dari 1 mm yang menempel pada batang rambut. Panjang kutu 2-3 mm, memiliki enam kaki, dan dapat terlihat pada kulit kepala.

Patofisiologi
Pedikulosis kapitis adalah infestasi kutu kepala yang sangat kecil yaitu pediculus humanus capitis di kulit kepala manusia. Pedikulosis ini sering terjadi pada anak berusia 3-12 tahun. Kutu betina dapat menghasilkan 100 telur selama 3-4 minggu. Telur-telur menempel pada batang rambut dekat kulit kepala dengan adanya zat yang menyerupai lem. Kutu kepala tidak melompat dari orang keorang, dan juga kutu kepala tidak dapat terbang, sehingga transmisi terjadi pada orang yang berkontak secara dekat dan berlangsung lama dari kepala ke kepala, sperti ketika tidur bersama, dan memakai topi, sisir atau sikat secara bergantian.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan melihat kutu kepala yang hidup dan aktif. Visualisasi telur pada kulit kepala seorang anak tidak cukup untuk mendiagnosis infestasi kutu aktif, karena telur-telur cenderung tetap menempel lama setelah kutu bertelur.

Komplikasi Klinis
Tidak ada komplikasi klinis; namun, sebagian besar anak dirumahkan oleh pihak sekolah saat diketahui terjadi infestasi.

Tata Laksana

Tersedia piretroid topikal yang dapat dibeli bebas. Obat ini biasanya menghancurkan kutu, tetapi tidak menghancurkan telurnya; oleh karena itu, pengobatan kedua dianjurkan dilakukan setelah 7-10 hari. Jika rasa gatal di kulit kepala menetap tanpa melihat kutu yang hidup, maka pemakaian piretroid sebaiknya tidak diulang kembali. Penanganan kutu dengan obat resep tersedia dalam bentuk lesio malathion 0,5% atau lindane 1%. Lindane diabsorpsi melalui kulit dan dapat menyebabkan serangan kejang atau kematian jika digunakan secara tidak tepat, terlalu sering dipakai atau diberikan pada orang yang sangat muda. Sprei, handuk, dan pakaian harus dicuci dengan air panas. Bahan yang tidak dapat dicuci sendiri harus dicuci di binatu (dry clean).sikat dan sisir harus direndam selama sekrang-kurangnya 1 jam. Lantai dan perabot rumah tangga harus harus diberikan dengan penyedot debu (vacuum), termasuk tempat duduk anak dimobil. Hewan peliharaan harus dimandikan jika anak tidur dengan hewan peliharaannya tersebut.

Cara Penanganan dan pengobatan pada Dermatitis Atopik

00:09:00 Add Comment

Gejala Klinis
Pasien yang mengalami dermatitis atopik (DA) datang dengan suatu ruam yang gatal di bagian kulit, yang dapat meradang, membengkak, dan kering. DA seringkali ditemukan bersamaan dengan entitas atopik lainnya.

Patofisiologi
Penyebab dan mekanisme tepat yang terlibat pada DA tidak sepenuhnya dipahami. Diduga terdapat peran alergen pencetus, tetapi pada beberapa penelitian hal ini disangkal. DA tampaknya peningkatan kadar imunoglobin E (IgE) bersamaan dengan disregulasi sel T. Pelepasan histamin tidak terlibat pada DA.

Diagnosis
Kriteria diagnosis DA meliputi adanya ruam kulit pruritik dalam 12 bulan terakhir (obligatori), ditambah tiga atau lebih kriteria berikut: riwayat dermatitis fleksural, onset sebelum usia 2 tahun, riwayat asma atau hay fever, riwayat kulit kering, dan dermatitis fleksural yang terlihat. Kriteria lebih detail telah digambarkan di masa lalu, tetapi terlalu memberatkan untuk digunakan di unit gawat darurat (UGD). Uji laboratorium memiliki nilai yang terbatas jika diterapkan di UGD; namun, peningkatan nilai IgE serum dapat membantu menegakkan diagnosis.

Komplikasi Klinis
Komplikasi dermatitis atopik meliputi superinfeksi bakteri dan virus.

Tata Laksana

Rujukan dermatologik tepat dilakukan pada semua kasus. Berkeringat dan panas pada kulit sering kali menjadi faktor pencetus, dan pasien dianjurkan menghindari faktor pencetus tersebut. Mandi dengan air hangat dan penggunaan sabun yang lembut dianjurkan; emolien dapat dioleskan pada kulit yang lembab untuk memaksimalkan retensi kelembapan. Steroid potensi menengah dapat dioleskan dua kali sehari untuk eksaserbasi DA. Antibiotik digunakan hanya untuk kasus dengan tanda infeksi.

Cara Menangani Kutu Pubis

20:31:00 Add Comment

Gejala Klinis
Gejala klinis yang paling sering pada infetasi kutu pubis adalah pruritus, yang terjadi pada 85% kasus. Seringkali hanya didapatkan sangat sedikit kutu selama infeksi, sehingga rambut pubis harus diinspeksi secara cermat untuk mencari kutu berwarna cokelat yang berukuran 1-2mm. Temuan lain yang menunjukkan infestasi adalah makula saerulae, makula abu-abu kebiruan yang tampak dilokasi gigitan; bahan fekal berwarna menyerupai karat juga dapat terlihat.

Patofisiologi
Phthirus pubis berukuran kira-kira 1mm dan memiliki tiga pasang tungkai. Kutu dapat hidup jauh dari pejamu manusia sampai 24 jam. Kutu pubis dapat ditransmisikan dengan mudah melalui kontak fisik. Mode transmisi paling sering adalah melalui kontak seksual. Kutu juga dapat ditemukan pada rambut fasial, rambut paha, dan alis mata, namun hal ini jarang terjadi. Laki-laki sering terinfeksi dari pada perempuan, kemungkinan karena perempuan biasanya memiliki lebih sedikit rambut pubis. Telur-telur menempel pada dasar fosikel rambut dan matang 3 minggu kemudian dan menjadi dewasa. Kutu dewasa dapat mengeluarkan 100 telur selama massa hidupnya, yaitu 1 bulan.

Diagnosis
Diagnosis kutu pubis ditegakkan berdasarkan tanda klinis penyakit. Untuk mengkonfirmasi diagnosis, maka folikel rambut dapat diperiksa dibawah mikroskop dengan perbesaran rendah.

Komplikasi Klinis
Komplikasi yang paling sering dari infestasi ini adalah penyebaran keorang lain. superinfeksi bakteri juga dapat terjadi sebagai akibat ekskoriasi.

Tata Laksana
Pengobatan kutu pubis adalah dengan pemberian topikal lindane, permetrin, atau piretrin. Lindane 1% dioleskan di daerah yang terkena untuk penggunaan selama 4 menit. Komplikasi akibat pemakaian lindane untuk waktu yang sangat terbatas ini sangat jarang terjadi. Namun, pengobatan ini dikontraindikasikan pada perempuan hamil atau menyusui dan pada anak yang berusia kuran dari 2 tahun, karena resiko terjadinya serangan kejang dan anemia aplastik. Pengobatan dengan permetrin krim 1% atau piretrin harus dilakukan selama 10 menit. Pengobatan mungkin perlu diulangi dalam 1 minggu jika gejala menetap.


Semua pakaian dan sprei harus dicuci untuk mencegah resistensi. Telur dapat diangkat dengan sisir bergigi halus. Karena sepertiga pasien yang terinfeksi kutu pubis menderita penyakit menular seksual, maka semua pasien harus diskrining dan diobati dengan tepat. Uretritis dan vuvovaginitis adalah penyakit menular seksual terkait yang paling sering terjadi pada suatu penelitian. Semua pasangan seksual (yang kontak dalam kurun waktu sebulan sebelumnya) juga harus diobati.

Cara penanganan penyakit Impetigo Bulosa dan pengobatannya

20:21:00 2 Comments

Gejala Klinis
Impetigo bulosa (BI, bullous impetigo) merupakan suatu infeksi kulit yang sering terjadi terutama pada bayi dan anak. Tanda-tanda yang timbul bersifat khas berupa lepuh flasid danbula berdiameter 0,5-3 cm. Distribusinya dapat lokal maupun difus, dan biasanya terdapat pada wajah. Batang tubuh, perineum, dan ekstremitas juga dapat terkena.

Patofisiologi
Hampir semua BI disebabkan oleh stphylococcus aureus kogulase-positif, meskipun keterlibatan spesies streptokokus pernah dilaporkan. Toksin epidermolitik stafilokokus dianggap merupakan penyebab nyeri tekan dan terbentuknya bula yang khas untuk penyakit ini. Infeksi biasanya terjadi tanpa adanya cedera kulit sebelumnya. Jika tidak diobati, bula akan ruptur dalam 1-2 hari, meninggalkan krusta berwarna menyerupai madu dan erosi superfisial.

Diagnosis
Diagnosis biasanya dapat ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis, tetapi gejala atipikal dapat menyerupai luka bakar termal atau kimiawi. Diagnosis definitif dapat ditegakkan dengan biopsi; namun, pemeriksaan ini hanya dilakukan pada kasus yang tidak biasa.

Komplikasi klinis
Komplikasi BI (biasanya terjadi pada bayi) meliputi perluasaan infeksi lokal menyebabkan osteomielitis atau artritis septik. Jika infeksi melibatkan staphylococcus tipe 71, grup fag II, maka dapat terbentuknya bula yang lebih besar (sampai 8cm) dan toksin menimbulkan pemecahan intradermal. Gejala yang lebih berat tetapi tidak biasa terjadi pada spektrum ini adalah staphylococcus scalded skin syndrome (SSSS), yang meliputi epidermolisis generalisata dengan deskuamasi.

Tata Laksana

Azitromisin dan sefaloporin adalah obat pilihan terkini yang dianjurkan. Diklosasilin dan sefalosporin generasi pertama adalah alternatif yang dapat diterima. Beberapa fluorokuinolon terbukti efektif, tetapi akhir-akhir ini hanya disetujui untuk orang dewasa. Eritomisin tidak lagi dianjurkan karena resistensi mikroba.

Cara Pengobatan Penyakit Nekrobiosis Lipoidika

12:43:00 Add Comment

Gejala Klinis
Nekrobiosis lipoidika (NL) biasanya terjadi pada pasien penyandang diabetes melitus, yang datang dengan perubahan kulit granulomatosa kronik yang terletak bilateral pada area pretiba, wajah, tangan, kulit kepala, dan lengan bawah. Lesi NL bermula sebagai papul yang tidak nyeri berwarna cokelat kemerahan yang berubah bentuk menjadi plak atrofik berwarna kekuningan dengan cincin berwarna ungu yang meninggi di perifer dan area sentral serta tampak tertekan.

Patofisiologi
Mekanisme NL diduga meliputi ganguan peradangan kronik, mikroangiopatik, dan struktural. Penumpukan abnormal dari makrofag dan selanjutnya pembentukan granuloma dapat menjadi penyebab NL. Peningkatan kadar prostaglandin, agregasi trombosit, dan penyakit pembuluh kecil juga dianggap sebagai penyebab. Mikroangiopati, penebalan dinding pembuluh dermal, dan kadang-kadang oklusi pembuluh sering terjadi pada NL. Insufisiensi vena kronik pada orang dewasa obes yang kurang bergerak, dan pada orang berusia lanjut yang menyandang diabetes melitus dapat menjadi faktor-faktor pencetus. Trauma sebelumnya pada pasien yang telah memilki predisposisi NL (yaitu diabetisi obes) dapat menyebabkan terbentuknya lesi.

Diagnosis
Diagnosis bersifat klinis dan dikonfirmasi dengan biopsi untuk menentukan kedalaman terlibatnya N|L dan kategorisasi histologik spesifik (yaitu granulomatosa atau nekrobiotik atau keduanya). Pemeriksaan doppler veskular dapat menunjukkan tingkat stasis vena, yang menggambarkan disfungsi valvular lokal.

Komplikasi Klinis
Komplikasi NL meliputi penyembuhan luka yang terlambat, imobilisasi berkepanjangan, dan selanjutnya penurunan berat badan yang cepat, serta superinfeksi.

Tata Laksana

Meskipun NL merupakan suatu keadaan kronik, NL dilaporkan dapat sembuh spontan pada 10-20% kasus. Konsultasi endoktrin tepat dilakukan untuk pasien yang menyandang diabetes melitus dan tanda-tanda kulit penyakit ini. Kortikosteroid topikal dan intralesi, kortikosteroid sistemik, nikotinamid, siklosporin, pentoksifilin, asam asetilsalisilat, tiklopidin oral, tretinoin topikal, oksigen hiperbarik, balutan porsin (porcine), tundur kulit, dan balutan dengan tekanan (pressure garment) dapat membantu pasien NL. NL kronik biasanya tidak memerlukan terapi emergensi, dan sering kali pasien dapat dipulangkan dari ungit gawat darurat (UGD) dan kemudian dilakukan follow-up oleh dokter perawatan primer.

Diagnosis Dan Pengobatan Liken Planus

12:39:00 Add Comment

Gejala Klinis
Pasien yang mengalami liken planus (LP) dapat datang dengan papul dan plak pruritik yang terletak pada permukaan fleksor ekstremitas.

Patofisiologi
LP adalah suatu penyakit membran mukosa dan peradangan kulit dengan penyebab yang tidak diketahui. Teori-teori terkini memfokuskan pada masalah genetik dan disfungsi imun sebagai penyebab yang potensial. Pajanan beberapa obat, yaitu emas, obat anti malaria, penisilamin, diuretik tiazid, β-adrenergik bloker, obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS), kuinidin, dan inhibitor ACE, dapat menimbulkan erupsi likenoid.

Diagnosis
Diagnosis LP ditegakkan berdasarkan inspeksi klinis dan biopsi lesi. Lesi LP cenderung merupakan suatu “plak dan papul poliginal berujung rata yang berwarna ungu”, kadang-kadang ditandai dengan “enam P”: plak dan papul yang pruritik, poliginal, planar, dan berwarna ungu (purple). Lesi LP bermula pada permukaan fleksor ekstremitas, yang paling sering adalah pergelangan tangan, dan dapat berlangsung dari beberapa bulan sampai beberapa tahun. LP juga dapat mengenai mukosa genital, membran mukosa, rambut, dan kuku.

Komplikasi Klinis
Komplikasi LP meliputi keterlibatan mukosa oral, erosi oral yang nyeri, infeksi kandida, dan karsinoma sel skuamosa (SCC, squamous cell carcinoma).

Tata Laksana

Kecurigaan klinis LP memerlukan konsultasi dermatologi yang tepat. Untuk LP kulit Lokalisata, krim kortikosteroid topikal seperti klobetasol, halobetasol, betametason dipropionat, atau diflorason dapat digunakan. Kortikosteroid yang kurang poten, seperti hidrokortison 2,5%, harus digunakan pada wajah dan genitalia. Untuk LP kulit generalisata, kortikosteroid sistemik harus dipertimbangkan.

Cara Pengobatan Dan Penanganan Penyakit Granuloma Piogenik

12:34:00 Add Comment

Gejala Klinis
Granuloma piogenik (PG, pyogenic granuloma) paling sering terjadi pada anak dan oarng dewas muda, dengan varian khas pada perempuan hamil. Pasien datang dengan nodul yang tumbuh cepat dikulit atau membran mukosa. Nodul mudah pecah dan dapat menyebabkan perdarahan sebagai bagian dari keluhan utama.

Patofisiologi
Istilah granuloma piogenik sebenarnya tidak tepat, karena lesi tidak prupelen maupun granulomatosa. PG sebenarnya adalah vaskular didapat yang bersifat jinak. PG diketahui terjadi sebagai respons terhadap cedera atau faktor hormonal, meskipun tidak secara eksklusif. Terdapat perdebatan apakah lesi penyebab adalah suatu hemangioma atau proliferasi hiperplastik dan jaringan granulasi.

Diagnosis
Lesi PG secara khas merupaka nodul kecil (berdiameter kurang dari 1cm) yang tumbuh dengan cepat, soliter dan berwarna kuning sampai merah terang. Permukaannya dapat lobular atau ulseratif, dengan tekstur basah atau menyerupai sisik. Lesi seringkali menjadi pendunkulata dengan terbentuknya tangkai seperti sisik atau “kolaret”. Distribusi yang paling sering adalah regio kepala dan leher (62,5%), diikuti batang tubuh (19,7%), dan ekstremitas (bagian atas lebih berat dari pada bagian bawah;17,9%). Dalam pola ini, membran mukosa dan jari merupakan tempat yang paling sering terkena. Bila ditemukan saat hamil, lesi PG memiliki ciri khas terdapat pada gusi dan disebut sebagai tumor kehamilan. Diagnosis banding PG meliputi kondisi keganasan seperti melanoma amelanotik (terutama jika ditemukan disepanjang bantalan kuku), angiosarkoma, karsinoma sel basal (BBC, basal cell carcinoma), dan karsinoma sel skuamosa (SSC, squamous cell carcinoma). Biopsi untuk karakteristik histopatologik mengkonfirmasi diagnosis.

Komplikasi Klinis
Komplkasi yang paling sering terjadi adalah perdarahan yang banyak dari lesi yang refrakter terhadap tekanan. Rekurensi juga terjadi jika terdapat jaringan abnormal yang menetap setelah pengobatan awal. Lesi satelit multipel terjadi setelah eksisi lesi primer soliter, namun hal ini jarang terjadi.

Tata Laksana

Kauterisasi kimiawi dengan perak nitrat adalah tindakan hemostasis yang efektif di unit gawat darurat (UGD); eksisi, kuretase, dan terapi laser adalah tindakan yang tersedia untuk pengangkatan lesi. Jika perlu, rujukan ahli dermatologi, ahli otolaringologi, atau dokter perawatan primer yang cakap merupakan suatu disposisi yang dapat diterima. 

Cara Pengobatan Penyakit Fitofotodermatitis

12:28:00 Add Comment

Gejala Klinis
Pasien pada awalnya mengalami ruam vesikular eritematosa di area yang terpajan sinar matahari seperti wajah, dada atas, serta dorsum lengan bawah dan tangan. Ruam dapat tampak seperti garis-garis,yang membentuk pola pada area yang kontak dengan dengan tanaman. Gejala memuncak dalam 36-72 jam setelah pajanan. Pada kasus yang berat, pembentukan lepuh dan gejala sistematik dapat terjadi, termasuk mual dan muntah. Ruam yang terjadi kemudian diikuti dengan berkembangnya lesi hiperpigmentasi seragam yang meniggi dan dapat berlangsung beberpa bulan atau lebih lama.

Patofisiologi
Fitofotodermatitis adalah suatu reaksi kulit nonalergi yang terjadi setelah terpajan tanaman tertentu disertai pajanan sinar matahari. Kondisi ini sering terjadi pada pekerja seperti tukang kebun, petani, koki, dan penjual bahan makanan. Banyak tanaman mengandung psoralen, suatu golongan senyawa yang menyebabka terjadinya reaksi ini. Tanaman tersebut meliputi lemon, limau, seledri, wortel liar, daun paterseli (parsley), sejenis wortel (parsnip), adas(fennel), tanaman berbiji harum (dill), pohon ara (fig), sejenis bunga berwarna kuning yang berbentuk mangkok (buttercup), dan mustard. Psoralen digunakan untuk terapi dalam kombinasi dengan sinar ultraviolet (PUVA) untuk pengobatan psoriasis, vitiligo, dan mikosis fungoides (limfoma sel T kulit). Dermatitis Berloque terjadi pada tubuh bagian atas setelah menggunakan parfum yang terdiri dari minyak limau bergamot yang mengandung psoralen.

Ketika terpajan sinar matahari, psoaralen menyebabkan ikatan silang DNA dan inhibisi pembelahan dan pertumbuhan sel. Cedera ini menstimulasi sintesis keratin dan melanin serta penebalan stratum korneum.

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran, dan lokasi lesi kulit. Riwayat pajanan yang cermat harus diperoleh. Pasien mungkin tidak ingat pajanan sepele terhadap psoralen, seperti membuat campuran minuman dengan limau. Kesalahan diagnosis fitofotodermatitis yaitu keliru dianggap sebagai penyiksaan anak dapat terjadi bila anak memiliki lesi hiperpigmentasi yang berbentuk telapak tangan. Pada kasus ini, orangtua yang tangannya memegang jus lemon atau limau kemudian memegang si anak, yang selanjutnya terpajan sinar matahari dan terbentuklah kondisi seperti bentuk telapak tangan tersebut.

Tata Laksana

Pengobatan akut meliputi kortikosteroid topikal dan kompres dingin. Hiperpigmentasi biasanya sembuh seiring berjalannya waktu, tetapi pengobatan dengan tretinoin atau agen pemutih kulit dapat memperbaiki penampilan.

Penyakit Kulit Pada Penderita Diabetes (Dermopati Diabetik)

12:22:00 Add Comment

Gejala Klinis
Dermopati diabetik (DD) merupakan dermatosis yangpaling sering terjadi ajibat diabetes. DD terjadi pada 70% penderita diabetes, terutama laki-laki berusia lebih dari 50 tahun. Gejala klinis yang khas meliputi papul atau plak multipel, berukuran kecil (0,5-1cm), asimetrik, berbentuk anular atau iregular, berwarna cokelat kemerahan yang terdapat pada permukaan ekstensor tungkai bawah, yang berkembang secara lambat menjadi makula bersisik halus, hiperpigmentasi, dan atrofik. Bercak ini secara bertahap sembuh dengan meninggalkan suatu parut atrofik berwarna cokelat. Lesi juga dapat ditemukan pada lengan bawah, paha, dan maleolus lateral. Lesi baru dapat tampak, sedangkan lesi yang lama dapat menetap atau hilang.

Patofisiologi
Penyebab DD tidak jelas, perubahan mikroangiopati dan trauma dianggap merupakan predisposisi terhadap lesi tipe DD. Tidak ada korelasi antara perkembangan DD dan keparahan diabetes, durasi diabetes, atau tingkat kontrol glikemik. Pada beberapa pasien, tampak bercak pada aspek anterior tungkai dibawah lutut sebelum terjadi metabolisme glukosa yang abnormal.

Diagnosis
DD adalah suatu diagnosis klinis. Pemeriksaan hitologik memperlihatkan epidermis tipis dengan penebalan pembuluh darah di dermis dan peningkatan material yang menunjukkan hasil positif dengan periodic acid-Schiff (PAS). Infiltrat limfohistiositik dengan sedikit deposit hemosiderin juga dapat terjadi. Diagnosis banding meliputi dermatitis statis, nekrobiosis lipoidika, erupsi purpura berpigmen, dan pembentukan parut pascatrauma.

Komplikasi Klinis
Tidak ada komplikasi dermatologik atau sistemik akibat DD selain gangguan kosmetik.

Tata Laksana

Lesi DD seringkali sembuh spontan, meskipun dibarengi timbulnya lesi baru. Tidak ada pengobatan yang efektif atau dianjurkan untuk kerusakan kulit yang biasanya bersifat asimtomatik. Jika pasien cemas dengan penampilannya, kosmetik dapat digunakan untuk menyamarkan lesi. Semua terapi medis harus ditujukan pada penyebab yang mendasari yaitu diabetes melitus.

Cara mengobati Panu (Tinea versikolor)

12:03:00 Add Comment

Gejala Klinis
Pasien datang dengan kelenjar sebasea yang terkena pada batang tubuh bagian atas, leher, dan lengan. Pasien anak dapat datang dengan lesi diwajah. Lesi tampak eritematosa; dapat terdiri dari makula hipopigmentasi atau hiperpigmentasi, atau dapat berkelompok. Terjadi pembentukan sisik dan pruritus yang beragam. Area yang terkena cenderung tidak menjadi kecoklatan sebanyak area yang tidak terkena. Ruam biasanya tidak terlihat bersih secara spontan, sehingga pasien dapat datang dengan gejala yang sudah berlangsung lama.

Patofisiologi
Tinea versikolor, atau pitiriasis versikolor, adalah suatu infeksi mikotik superfisial. Keadaan ini bukan merupakan infeksi tinea sejati, karena organisme yang menyebabkan infeksi bukan dermatofit tetapi ragi (yeast).

Tinea versikolor disebabkan oleh malassezia furfur, suatu ragi lipofilik. Suhu dan kelembapan yang tinggi berperan pada perkembangan infeksi, demikian pula penggunaan pakaian tertutup (oklusif) dan kulit berminyak.

Diagnosis
Diagnosis sering ditegakkan diunit gawat darurat (UGD) berdasarkan gambaran ruam saja. Hal ini dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan menggunakan lampu Wood atau pemeriksaan mikroskopik preparat kalium hidroksida (KOH). Lampu Wood memperlihatkan fluoresensi M. Furfur yang berwarna kuning pucat. Hifa angular yang pendek dan ragi yang mengalami budding dapat terlihat pada evaluasi mikroskopik.

Komplikasi Klinis
Komplikasi tinea versikolor yang paling sering terjadi adalah reinfeksi. Tingkat reinfeksi dilaporkan setinggi 80% setelah 2 tahun.

Tata Laksana
Pengobatan tinea versikolor melibatkan terapi anti jamur topikal atau oral. Obat topikal meliputi lesio atau sampo selenium sulfida, biarkan selama 15 menit. Dipakai setiap hari selama 2 minggu dan kemudian sekali sebulan. Pengobatan topikal lain meliputi terbinafin atau pengobatan dengan ekonazol atau ketokonazol. Rekurensi jarang terjadi jika diberikan terapi oral.

Gejala KlinisTinea Pedis dan pengobatannya

12:00:00 Add Comment

Gejala Klinis
Diketahui terdapat tiga bentuk Tinea Pedis yaitu; interdigital, mokasin, dan vesikulobulosa. Tinea pedis interdigital paling sering terjadi diantara jari kaki keempat dan kelima. Ciri-ciri tinea pedis interdigital, kulit tampak mengalami maserasi dan basah, kering dan bersisik. Pada jenis tinea pedis mokasin, terdapat ruam keperakan atau putih bersisik yang nopruritik dan dapat terlihat pada aspek plantar kaki. Sisik tersebut seringkali memiliki dasar yang menebal dan ertematosa. Tinea vesikulobulosa paling sering terjadi pada tumit atau telapak kaki, dan seringkali timbul pustul.

Patofisiologi
Tinea pedis adalah suatu infeksi dermatofit yang mengenai kulit jari kaki dan kaki.

Tinea pedis adalah infeksi dermatofit yang paling sering terjadi pada manusia, terjadi pada 70% orang dewasa. Penyebab paling sering  diidentifikasi adalah Trichophyton rubrum. Organisme ini pada satu penelitian dilaporkan menyebabkan 76% dari seluruh penyakit jamur superfisial. Dermatofit lain yang menyebabkan infeksi ini adalah T. Mentagrophytes dan Epidermophyton floccosum. Organisme jamur tersebut sering terdapat dalam lingkungan yang hangat dan lembab seperti pada sepatu atletik atau sepatu tertutup (oklusif) lainnya dan pada ruang yang dilengkapi lemari penyimpan ditempat olahraga (locker room). Sebagian besar infeksi menyebar dari orang ke orang, namun dapat juga menyebar melalui kontak dengan fomite.

Diagnosis
Diagnosis tinea pedis biasanya ditegakkan berdasarkan gejala klinis saja, tetapi dapat dikonfirmasi dengan preparat kalium hidroksida(KOH) yang diambil dari ujung lesi yang tersembul atau dari bagian atap pustul atau vesikel, jika ada. Hifa jamur terlihat pada pemeriksaan mikroskopik slide.

Komplikasi Klinis
Superinfeksi bakteri merupakan komplikasi tinea pedis yang paling sering terjadi. Infeksi tinea rekuren juga sering terjadi, terutama jika terdapat omnikomikosis.

Tata Laksana
Pasien harus dianjurkan untuk menggunakan kaos kaki yang menyerap keringat dan menjaga agar kaki tetap terbuka sesering mungkin. Terapi utamanya adalah dengan obat antijamur topikal. Obat antijamur primer yang digunakan untuk mengobati infeksi adalah azol dan alilamin. Azol meliputi klotrimazol, ekonazol, dan mikonazol. Golongan alilamin meliputi terbinafin dan naftifin. Ciclopirox adalah suatu obat berspektrum luas yang efektif melawan dermatofit dan ragi (yeast) serta juga memiliki beberapa aktivitas anti bakteri. Polien, termasuk nistatin, kurang efektif pada pengobatan tinea pedis. Semua obat sebaiknya digunakan satu sampai dua kali sehari selama 7 hari setelah resolusi gejala, atau selama total 4 minggu. Obat antijamur steroid dapat digunakan jika pasien memiliki komponen peradangan yang signifikan terhadap infeksinya. Onikomikosis yang terjadi bersamaan harus diobati dengan obat oral.  

Cara penanganan dan mengobati Tinea Cruris secara medis

11:58:00 Add Comment

Gejala Klinis
Tinea kruris adalah infeksi jamur yang sering terjadi, yang hampir hanya mengenai laki-laki. Infeksi ini seringkali terjadi bersamaan dengan infeksi tinea pada kaki. Pruritus sering terjadi, dan nyeri dapat timbul jika area yang terkena mengalami maserasi atau infeksi sekunder. Infeksi diawali dengan pembentukan sisik dan eritema dari lipatan inguinal dan berkembang mengenai aspek anterior paha. Ruam juga dapat menyebar ke celah anus. Tinea kuris berbatas tegas dan jarang mengenai skrotum; kedua gambaran ini membedakan penyakit ini dari kandidiasis.

Patofisiologi
Tinea kruris adalah suatu infeksi jamur yang mengenai lipat paha, kadang-kadang disebut sebagai “gatal joki”.

Dermatofit yang sering menyebabkan infeksi pada lipat paha adalah Trichophyton rubrum, epidemophyton floccosum, dan Trichophyton mentagrophytes.

Diagnosis
Organisme dapat terlihat pada preparat kalium hidroksida (KOH) dari kerokan sisik bagian tepi yang meluas. Kultur jamur juga dapat membantu mengkonfirmasi diagnosis. Tinea kruris tidak berfluoresensi di bawah sinar lampu Wood.

Komplikasi Klinis
Komplikasi klini jarang terjadi, tetapi superinfeksi area oleh bakteri penyebab selulitis dapat terjadi. Komplikasi ini lebih sering terjadi pada orang dengan gangguan imun.

Tata Laksana
Infeksi dermatofit dapat dibatasi dengan dua cara yaitu:
  • Mengubah lingkungannya sehingga tidak menguntungkan bagi jamur tersebut untuk melakukan propagasi,
  • dan penggunaan obat anti jamur topikal.



Untuk mengurangi kelembapan dari lingkungan sekitar, maka pasien disarankan untuk menggunakan pakaian yang menyerap keringat atau longgar. Antijamur topikal meliputi obat golongan azol, seperti klotrimazol, ketokonazol, atau mikonazol. Obat-obat tersebut memilikispektrum aktivitas yang luas dengan cakupan beberapa jamur Gram-positif juga. Alilamin adalah golongan antijamur utama lain yang meliputi terbinafin dan naftifin. Obat tersebut memerlukan pemakaian tiap hari dan tetap aktif dikulit selama 1 minggu setelah pemakaian. Obat yang lebih baru seperti ciclopirox, butenafin, dan haloprogin telah dicoba dengan hasil beragam. Mikostatin (nistatin) tidak ditemukan efektif pada pengobatan tinea kruris. Pengobatan topikal tersebut harus mencakup 2 cm melewati tepi lesi yang terkena. Steroid topikal dapat digunakan sebagai tambahan pada kasus inflamasi berat. Untuk pasien dengan penekanan sistem imun, pasien dengan penyakit yang luas, dan pasien yang gagal diobati dengan pengobatan topikal, maka flukonazol, itrakonazol, atau terbinafin dapat diberikan per oral. Pengobatan tinea pedis pada orang yang terkena tinea kuris diperlukan untuk mencegah rekurensi.

Cara Pengobatan dan penanganan Medis Tinea Kapitis

11:51:00 Add Comment

Gejala Kllinis
Tinea kapitis sering terjadi pada bayi dan anak kecil, dan merupakan infeksi dermatosit yang paling sering terjadi dalam kelompok usia ini. Pasien biasanya datang dengan lesi kulit kepala yang gatal dan tampak sebagai papul, pustul, atau plak. Nodul juga dapat timbul pada kulit kepala. Pembentukan sisik, eritema, eksudat, dan alopesia terjadi sebagai respons peradangan. Pasien seringkali mengalami limfadenopati servikal dan oksipital. Pasien dapat datang dengan kerion, yang merupakan nodul lunak, eritematosa, dan reaksi inflamasi pada kulit kepala yang disertai kerontokan rambut.

Patofisiologi
Tinea kapitis dapat ditularkan dari fomite, dari orang ke orang, atau dari hewan ke manusia. Tinea kapitis sering ditemuan pada anak usia prasekolah dan dialporkan lebih sering mengenai anak-anak Afrika-Amerika dan Hispanik. Spesies Trichophyton, yang paling sering yaitu Trichophyton tonsurans dan T.Mentagrophytes, menyebabkan 80% kasus. Infeksi oleh spesies tersebut bersifat asimtomatik hingga pada 30% pasien. Spesies Microsporum bersifat zoofilik dan juga sering ditemukan. Keratin merupakan sumber makanan dermatofit; sehingga, invasi pada jaringan hidup jarang terjadi.

Diagnosis
Pemeriksaan fisik yang memperlihatkan sekurang-kurangnya tiga dari empat kriteria (pembentukan sisik di kulit kepala, pruritus, adenopati oksipital, dan alopesia) bersifat akurat pada 92% kasus yang dikonfirmasi dengan kultur. Diagnosis dikonfirmasi dengan mengekstraksi sampel rambut dan organisme terlihat pada preparat kalium hidroksida(KOH), dengan memeriksa adanya hifa pada sampel. Hasil kultur juga dapat diperoleh dari sampel rambut, yang menggunakan agar desktrosa sabouraud dengan sikloheksimid. Pemeriksaan dengan lampu Wood memperlihatkan fluoresensi berwarna biru-hijau jika genus adalah Microsporum.

Komplikasi Klinis
Karena infeksi dermatofit cenderung terletak supefisial, maka komplikasi utamanya adalah kebotakan. Penyebaran ke orang lain juga sering terjadi dan lebih sering terjadi dan lebih sering terjadi pada pasien dengan depresi imunitas selular.

Tata Laksana

Untuk mencegah penyebaran ke anggota keluarga lainnya, maka semua perlengkapan perawatan harus dicuci sampai bersih. Dianjurkan agar anggota keluarga menggunakan sampo selenium sulfida tiga kali seminggu. Antijamur oral diresepkan pada pasien untuk penyembuhan penyakit ini. Griseofulvin adalah pengobatan satu-satunya yang disetujui FDA untuk tinea kapitis pada anak. Terbinafin juga efektif, pengobatan lain yang tersedia meliputi ketokonazol, itrakonazol, dan flukonazol.

Cara Pengobatan penyakit infeksi jamur Tinea Barbae

11:46:00 Add Comment

Gejala Klinis
Tinea barbae bermanifestasi sebagai lesi nodular menyerupai lumpur yang seringkali disertai eksudat. Lesi dapat tampak sebagai pustul eritematosa atau bercak menyerupai sisik. Infeksi mengenai batang rambut dan dieksaserbasi oleh pertumbuhan rambut kedalam. Pencabutan rambut di area yang terkena secara khas tidak terasa nyeri. Pasien dapat mengeluhkan rasa gatal atau terbakar di regio tersebut.

Patofisiologi
Tinea barbae adalah suatu infeksi dermatofit di area janggut.

Tinea barbae disebabkan oleh organisme Trichophyton verrucosum. Organisme ini, seperti dermatofit lainnya,berkolonisasi di stratum korneum yang mengalami keratinisasi. Tinea barbae terbentuk di luar batang rambut dan akhirnya menghancurkan kutikula. Karena infeksi lebih sering terjadi pada laki-laki yang berkerja dengan hewan, maka penyebaran penyakit ini dianggap bersifat zoofilik.
Diagnosis
Diagnosis tinea barbae biasanya ditegakkan berdasarkan gejala klinis saja. Pemeriksaan mikroskopik preparat kalium hidroksida (KOH) dari sampel rambut seringkali memperlihatkan unsur –unsur hifa jamur. Diagnosis tinea barbae dikonfirmasi dengan kultur dari rambut yng terkena.

Komplikasi Klinis
Superinfeksi area yang terkena dengan bakteri adalah koplikasi tinea barbae yang paling sering terjadi.

Tata Laksana

Pasien harus disarankan bercukur secara rutin dan sering mencuci wajah dengan sabun antibakteri. Pengobatan infeksi tinea barbae meliputi penggunaan obat anti jamur yang diberikan secara oral. Obat yang paling sering digunakan adalah griseofulvin, yang harus dilanjutkan selama 2-4 minggu setelah resolusi infeksi. Untuk kasus yang resisten, dapat digunakan itrakonazol, terbinafin, atau flukonazol.